Konsultasi Psikolog

internet_48.pngPara psikolog yang berpengalaman siap membantu keluarga dengan konsultasi psikologi untuk anak, remaja, dan keluarga.
selengkapnya...

Terapi Anak & Remaja

mydocuments_48.pngBeragam jenis terapi dari KANCIL untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, dirancang sesuai kebutuhan. 
selengkapnya ...

Pengayaan Anak & Remaja

mypc_48.pngKANCIL menyediakan layanan pengayaan (enrichment) anak melalui berbagai kegiatan yang dirancang secara profesional.
selengkapnya ...
 

Pendaftaran Acara

Ada Pertanyaan?

Jika Anda memiliki pertanyaan, Anda dapat mengirimkan email kepada kami

Kontak KANCIL

Anak Nyaman Keluhan Pun Sirna

Sering mengeluh bisa membuat anak tak disukai lingkungan. Segera koreksi agar tak berlanjut hingga dewasa.

Coba perhatikan ketika anak mengeluh. Wajahnya tampak tak menarik dilihat, muka masam dan cemberut. Kata-katanya pun tidak nyaman didengar, karena penuh dengan kekesalan dan amarah. Kesimpulannya, kita merasa tidak nyaman berdekatan dengan si pengeluh. apapun bisa dikeluhkan atau di komplain, baik masalah kecil maupun besar, bahkan kondisi yang sebetulnya tak bisa diubah sekalipun. Contoh, keluhan soal cuaca. Siapa sih yang mampu menghentikan hujan? Lagi pula cuaca apa pun, seharusnya disyukuri.

Dalam kadar tertentu, mengeluh sebenarnya wajar, sebab merupakan respons atas ketidaknyamanan yang dirasakan. Namun, terlalu banyak mengeluh malah tidak baik, karena menandakan keterampilan berbicara anak tidak terlatih dengan baik, sehingga anak tak pandai meramu kata-kata sesuai situasi dan kondisi dengan tepat.

Biasanya, anak yang suka mengeluh juga tak bahagia dengan dirinya, dengan segala sesuatu yang terjadi di luar dirinya. Sering mengeluh juga merupakan cerminan dari pribadi yang tak pandai bersyukur. Itulah mengapa, perilaku kerap mengeluh harus segera dikoreksi, sehingga nantinya anak dapat nyaman dan bahagia dengan dirinya sendiri. Sikap positifnya pun akan terpancar dari wajah dan kata-katanya.

Bila tidak, dikhawatirkan akan terus melekat hingga ia besar, anak tumbuh menjadi pribadi pengeluh. Bila itu terjadi, dapat dipastikan ia akan dijauhi oleh lingkungan sosialnya. Siapa sih yang mau mendengar gerutuan keluhan terus-menerus? Selain itu, anak pun sulit beradaptasi karena cenderung menganggap negatif semua yang terjadi di lingkungan. Ah….kita tentu tak ingin hal ini terjadi, bukan?!

9 Cara hadapi Si Pengeluh

1.  Gali keluhan anak

Perhatikan apa yang menjadi keluhan atau masalah anak. Dengarkan inner feeling-nya. Lihat seperti apa pola-pola keluhannya. Jadi, dalam situasi dan kondisi seperti apa anak sering mengeluh, apa saja yang dikeluhkan, dan sebagainya. Saat anak mengeluh sewaktu dibangunkan, coba cek apakah tidur malamnya kurang lelap.

2.  Latih anak untuk berbicara/berkomunikasi dengan baik.

Mengeluh boleh, tapi caranya harus benar. Ajari anak menggunakan bahasa yang baik saat mengeluh. Umpama, anak disodori bukan makanan kesukaannya, lalu berkata. ”Makanan ini enggak enak, aku enggak mau makan!” Tentu responsnya ini akan menyinggung orang yang menghidangkan atau memasaknya. Nah, beri tahu anak untuk menggunakan kata-kata yang baik, “Maaf, saya sudah kenyang, makannya nanti saja.” Atau, anak dapat mencicipi makanan itu sedikit saja.

3.  Hindari memarahi, tanggapi secara positif.

Saat anak mengeluh, secara spontan orangtua biasanya menanggapi dengan memarahi. Cara ini hanya akan mengecilkan hati anak dan bahkan bisa semakin menguatkan perilaku mengeluhnya. Yang terbaik, tanggapi secara positif. Saat anak mengeluh tak mau makan sayur, katakan, ”Mama hargai keinginanmu itu, tapi meski rasanya kurang  enak, wortel dan brokoli ini baik bagi tubuh karena membuat sehat.” Jadi, ajak anak mengambil sisi positifnya, sehingga dia tak mengeluh berkepanjangan lagi. Contoh lain, anak mengeluh soal bekal sekolah,” Aku enggak mau bawa bekal itu-itu lagi. Bosan!” Ajak anak bicara dengan melakukan dealing (kesepakatan), ”kakak maunya bawa bekal apa, pancake atau nasi goreng?” pastikan pilihan itu dapat dikerjakan orang tua. Dengan berkomunikasi diharapkan anak terlatih bicara dan mengurangi perilaku mengeluhnya.

4.  Tanamkan rasa bersyukur

Contoh, saat sarapan, anak berkata. ”Aku enggak mau spageti!” Jelaskan padanya.” Kakak seharusnya bersyukur sudah bisa sarapan. Ada anak lain di luar sana yang tidak bisa sarapan karena tidak punya makanan.” Selanjutnya, kita bisa katakan. ”Maaf, tadi Mama belum sempat buat makanan yang lain, jadi yang ada hanya spageti. Waktunya pun tidak cukup kalau harus membuat makanan baru karena kamu bisa terlambat sekolah. Untuk menu besok pagi, nanti kita bicarakan lagi.”

5.  Jelaskan Konsekuensinya

Sebelum mencoba sesuatu atau mengajak anak ikut ke sebuah acara, sebaiknya orangtua memberi gambaran suasana, hal-hal yang akan ditemui, dan lainnya. Contoh, kita akan mengajak anak ke pesta pernikahan seorang kawan, jelaskan bahwa disana ia akan menemukan keramaian, banyak orang tidak dikenal, membosankan, dan lain-lain. Bila anak memilih ikut, lalu mengeluh, orangtua tinggal mengingatkan kembali konsekuensinya, jadi kamu harus menunggu sampai acaranya selesai.”

6.  Buat anak merasa nyaman

Bila anak merasa nyaman, ia pun akan bahagia, tak ada keluhan/komplain. Umpama, saat keluarga akan bepergian keluar kota, persiapkan segala sesuatunya, mulai bekal makanan, minuman, sampai mainan. Untuk menghindari kejenuhan, alihkan dengan melakukan aneka permainan, menebak berbagai merek kendaraan yang antre di kemacetan, melihat bangunan yang menarik, dan lain-lain.

7.  Bersikap positif.

Pastikan porsi kata-kata orangtua lebih banyak positif daripada negatifnya. Mengeluh boleh-boleh saja jika situasi dan kondisinya tepat. Ingat, anak berperilaku dari meniru. Bila ia banyak melihat kata-kata dan perilaku mengeluh, jangan salahkan kalau ia tumbuh menjadi pengeluh. Intinya, jadilah role model yang baik bagi anak.

8.  Ajari anak bersabar.

Contoh, anak ingin segera minum susu padahal susunya masih panas, orangtua bisa mengatakan, “Susunya memang masih panas dan perlu waktu untuk menjadi dingin. Kamu perlu bersabar.”

9.  Cari tahu apa yang telah dialami anak di lingkungan.

Selain orangtua, anak juga bisa meniru dari orang lain apakah itu teman di sekolah, saudara di rumah, orang lain di mal, dan sebagainya. Orangtua perlu me-recall apa yang telah di lakukan/dialami anak. Umpama, setelah bermain di rumah teman, si anak yang tadinya tidak pernah mengeluh, kok tiba-tiba jadi pengeluh. Segera berulang-ulang. Jika tidak, maka apa yang sudah orangtua tanamkan menjadi sia-sia. (Nakita)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Jadwal

Tidak ada jadwal

Polls

Perkembangan anak-anak saya....