Konsultasi Psikolog

internet_48.pngPara psikolog yang berpengalaman siap membantu keluarga dengan konsultasi psikologi untuk anak, remaja, dan keluarga.
selengkapnya...

Terapi Anak & Remaja

mydocuments_48.pngBeragam jenis terapi dari KANCIL untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, dirancang sesuai kebutuhan. 
selengkapnya ...

Pengayaan Anak & Remaja

mypc_48.pngKANCIL menyediakan layanan pengayaan (enrichment) anak melalui berbagai kegiatan yang dirancang secara profesional.
selengkapnya ...
 

Pendaftaran Acara

Ada Pertanyaan?

Jika Anda memiliki pertanyaan, Anda dapat mengirimkan email kepada kami

Kontak KANCIL

Tak Mau Diam

Pindah cepat dari satu aktivitas ke aktivitas lain, tanda aktif atau hiperaktif?

Baru duduk semenit ia sudah berlari, lalu naik kursi. Tangannya pun sibuk pegang kue. Dalam hitungan 5, anak turun dari kursi, menjejak lantai lalu berputar-putar. Goyang terus! Belum cukup, si kecil pun melompat-lompat bagai per yang ditekan lalu dilepas, tuing…tuing.

Kemampuan motorik dan kognitif anak 2-3 tahun semakin baik. Otaknya sudah mencapai 80% dari otak orang dewasa. Kemampuannya berkomunikasi berkembang pesat. Postur tubuhnya mulai tegak, lebih langsing dan kelihatan kuat. Ia tampil menggemaskan, lucu!

Semua itu membuatnya lincah bergerak tak kenal lelah. Semua yang menarik perhatian dicobanya, namun umumnya tak bertahan lama. Di usia ini anak ingin menunjukkan kemandiriannya. Ia senang mencoba segala sesuatu sendiri. Gabungan kedua hal inilah yang membuat dirinya tampak sebagai sosok yang tidak bisa diam.

Menurut Dr. Marilyn Heins, MD, dokter anak dan penulis buku “Parent Tips” dari Amerika Serikat, perilaku aktif anak-anak 2-3 tahun yang tak mau diam ini normal. Rentang perhatian anak usia ini pendek. Namun bila ia menjadi terlalu aktif, bisa jadi karena pola asuh orangtua yang berlebihan memberikan perhatian dan stimulasi. Di lain pihak, ibu dan ayah anak-anak ini jarang membiarkan si kecil mengerjakan sesuatu dan memecahkan masalah sendiri. Apa yang perlu orangtua lakukan?

1.   Lakukan kegiatan yang seru setiap hari bersamanya dan pikirkan kegiatan kreatif. Jangan-jangan si kecil tidak mau diam karena ia bosan dengan kegiatan-kegiatan yang itu-itu saja. Ajak anak berlari di halaman, menari, mengikuti tokoh Tiger di televisi yang senang melompat-lompat.

2.   Temukan kegiatan yang anak sukai dan bisa membuatnya lelah.

  •  
    • Si kecil suka memanjat kursi, biarkan ia naik-turun kursi dengan pengawasan Anda dan pastikan kursinya kuat dinaiki anak.

    • Ajak anak berenang, ke playground, atau main bola sekali seminggu.

    • Menyediakan sarana bermain outdoor seperti kolam renang plastik, kotak berisi pasir, mainan yang bisa ditumpuk seperti balok-balok bola dan sebagainya.

    • Jika anak suka anak anjing, beri dia anjing yang energik seperti Golden Retriever sebagai teman yang menyenangkan. Si kecil dan anjing bisa berkejar-kejaran di halaman, berputar-putar berdua dan sebagainya.

3.   Izinkan si kecil membantu pekerjaan rumah tangga. Tidak apa-apa bila ia merebut sapu si Mbak, menyapu lantai atau sibuk mengelap meja bisa membuatnya tenang.

4. Sediakan mainan yang dapat membuat anak duduk tenang dan fokus. Apakah ia senang memakaikan baju boneka, menyisir, rambut boneka dan sebagainya.

5. Jika anak memang tak mau diam, biarkan saja. Yang penting awasi dia agar tidak menyentuh barang-barang berbahaya, misal barang pecah belah, stop kontak dan lain-lain.

Beda Anak Aktif & ADHD

Anak Aktif :

Terlihat terus bergerak namun tidak mengalami gangguan pemusatan perhatian.

Bisa fokus pada apa yang dikerjakan saat itu. Semisal diminta menyelesaikan permainan tersebut.

Ia dapat merasa lelah setelah melakukan kegiatan yang menguras tenaganya dan setelah itu ia akan berhenti dan beristirahat.

Masih bisa patuh bila diberitahu bahwa sikapnya salah. Misalnya, ia mau dilarang ketika akan membanting mobil-mobilannya.

Mainan dimainkan sesuai fungsinya. Misalnya boneka akan dimainkan sesuai fungsinya.     

Anak ADHD :

Bergerak terus tidak mau diam.

Sama sekali tidak bisa memusatkan perhatian pada hal apa pun. Mudah teralihkan.

Tidak bisa duduk tenang dalam jangka waktu yang lama.

Acuh tak acuh, terkesan seperti tidak mendengarkan perkataan orangtua/guru/ pengasuh.

Bermasalah melakukan permainan yang butuh ketenangan.

Mainan tidak dimainkan sesuai fungsinya, seperti mencabut tangan boneka.                      

 

Menurut Evie Sukmaningrum, S.Psi, Msi, anak dikatakan ADHD bila :

1. Gejala ADHD muncul paling tidak selama 6 bulan secara terus menerus.

2. Gejala-gejala tersebut menyebabkan masalah pada anak, seperti relasi, pelajaran dan sebagainya.

3. Gejala-gejala tersebut muncul dalam berbagai situasi.

4. Gejala-gejala tersebut terlihat jelas di usia 7 tahun keatas. Seorang anak belum tentu bisa dikategorikan ADHD kalau 4 syarat diatas tidak terpenuhi. Misalnya, ia terlihat sangat aktif hanya saat di rumah, atau saat ia dengan ibunya saja, dan berusia di bawah 7 tahun. Jadi, anak berusia 2-3 tahun belum bisa dilabel ADHD karena anak usia itu memang memiliki rentang perhatian yang pendek dan cenderung tidak mau diam. (AB)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Jadwal

Tidak ada jadwal

Polls

Perkembangan anak-anak saya....