Konsultasi Psikolog

internet_48.pngPara psikolog yang berpengalaman siap membantu keluarga dengan konsultasi psikologi untuk anak, remaja, dan keluarga.
selengkapnya...

Terapi Anak & Remaja

mydocuments_48.pngBeragam jenis terapi dari KANCIL untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, dirancang sesuai kebutuhan. 
selengkapnya ...

Pengayaan Anak & Remaja

mypc_48.pngKANCIL menyediakan layanan pengayaan (enrichment) anak melalui berbagai kegiatan yang dirancang secara profesional.
selengkapnya ...
 

Pendaftaran Acara

Ada Pertanyaan?

Jika Anda memiliki pertanyaan, Anda dapat mengirimkan email kepada kami

Kontak KANCIL

"Ma, Aku Pilih Ini Atau Itu, Ya?"

Melatih kemampuan memilih di usia prasekolah merupakan tahap awal membentuk kemandirian dalam pengambilan keputusan.

LIFE is matter of choice, hidup adalah pillihan. Ungkapan ini sering kita dengar untuk  menggambarkan, begitu banyak pilihan yang harus dihadapi dalam segi kehidupan. Mulai memilih nama anak, memilih sekolah, memilih baju/sepatu, memilih tempat tinggal sampai memilih pasangan!

Kadang begitu cepat kita memutuskan memilih, namun lain kali, kita gampang menghadapi beragam pilihan sebelum memutuskan mana yang akan dipilih. Ini semua karena setiap pilihan mengandung konsekuensi. Ada yang konsekuensinya enak/positif karena pilihannya tepat, ada juga pilihan yang berisiko pahit akhirnya. Namun, mau tidak mau, kita tetap harus memilih.

Tentu kita semua mengharapkan, segala sesuatu yang kita pilih selalu berujung kepuasan atau kebahagiaan. Ini yang disebut pilihan tepat. Tapi mampu membuat pilihan tepat, sejatinya tidak terjadi tiba-tiba melainkan melalui banyak latihan. Kapan memulainya, tentunya sejak dini.

Momen yang tepat untuk melatih adalah di usia prasekolah, karena kemampuan kognitif dan bahasa si kecil sudah semakin baik, sehingga ia mampu mengungkapkan apa yang diinginkannya dengan jelas. Secara sosial si prasekolah juga berinteraksi dengan lingkungan lebih luas yang berarti memberinya konsekuensi adakalanya ia harus menentukan sebuah pilihan.

PRIBADI  MANTAP

Ditilik dari manfaatnya, melatih kemampuan memilih merupakan langkah awal si prasekolah untuk mengembangkan kemandirian sekaligus belajar mengambil keputusan akan hal-hal yang diinginkan. Dirinya juga belajar mengenali alternatif-alternatif  yang ada pada sebuah pilihan, menentukan keputusan termasuk menerima konsekuensi dari keputusan yang diambil. Hal-hal inilah yang akan menjadi bekal dalam tahap kemandirian individu.

Dengan anak dibiasakan memilih sejak kecil, diharapkan dapat mendukung munculnya keberanian individu untuk mengungkapkan pilihannya, bersikap terbuka, tidak bergantung pada oranglain, dan menerima konsekuensi dari perbuatan yang dilakukannya.

Dengan sendirinya kalau hal-hal positif tersebut muncul pada diri anak, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang mantap dan penuh percaya diri, jauh dari sikap peragu.

Sebaliknya, anak yang tidak memiliki kesempatan untuk berlatih memilih, memutuskan dan menerima konsekuensi atas pilihannya akan tumbuh menjadi pribadi pasif, peragu, kurang mampu mengungkapkan pendapat, dan kurang berani mengambil resiko. Dalam jangka panjang ia akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang matang, bergantung pada oranglain dan kurang berani mengungkapkan keinginannya.

Jadi ayah dan ibu, teruslah berikan kesempatan dan latih si prasekolah belajar memilih. Kalau anak-anak sering berubah-ubah pikiran, tak masalah. Tidak berarti  nantinya ia akan tumbuh menjadi sosok yang plin plan. Waktunya masih panjang, asalkan terus dilatih kemampuan memilih ini sekaligus mengambil resiko pada pilihannya seiring perkembangan usianya.

7 Cara Melatih Anak Memilih

1. Berikan kesempatan pada si prasekolah untuk menentukan hal-hal sederhana yang diinginkan, seperti baju yang akan dikenakan, makanan apa yang diinginkan, sepatu mana yang hendak dipakai, mainan yang diinginkan, dan sebagainya.

2. Berikan alternatif terbatas. Anak tetap diberikan pilihan namun jangan terlalu banyak, karena pilihan yang terlalu banyak justru membuatnya sulit untuk menentukan. Contoh, memilih satu pasang sepatu dari dua pasang pilihan yang ada, memilih satu jenis makanan dari dua jenis yang ditawarkan. “Adek mau memakai sepatu biru atau coklat?” atau “Adek mau makan nasi atau spagetti?”

3. Beri kesempatan anak untuk mengungkapkan alasan dari pilihan yang dibuatnya. Misal memilih kaus berwarna merah karena sedang melihat warna merah, atau memilih mainan kereta api karena belum lama melihat gambar kereta api dibuku cerita.

4. Ungkapkan pertimbangan orangtua terhadap pilihan anak. Memakai kaus berwarna hitam disiang terik mendatangkan rasa panas, menaiki mobil-mobilan didalam rumah pada malam hari dapat mengganggu kakak adiknya  yang sedang belajar atau istirahat.

5. Hargai setiap keputusan anak dengan tidak memaksakan pilihan orangtua kepadanya. Jika anak sudah mampu memilih dan memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya, oarngtua harus menghargai dan memberikan kesempatan untuk menjalankan pilihannya. Berikan apresiasi atas pilihannya itu, misalnya dengan memberikan pujian sewajarnya atau sekedar acungan jempol.

6. Jangan memojokkan/mengolok-olok sekiranya pilihannya kurang tepat. “Tuh, Mama bilang juga apa, Adek maksa sih ke kolam renang, padahal sudah mendung, sekarang hujan, tidak jadi berenang, kan? Kalau tadi nurutin mama, sekarang sudah asyik bermain di playground mall”.

7. Sediakan waktu yang longgar, misalnya ia boleh memilih mau memakai baju yang mana setelah mandi sore, tapi ia tidak perlu memilih sepatu yang mana ketika terlambat bangun dipagi hari. Waktu yang tidak tepat akan membuat orangtua uring-uringan karena menganggap anak hanya buang-buang waktu, ujung-ujungnya seringkali orangtua jadi emosi, “Aduh, Adek  apa-apaan sih, sudah terlambat masuk sekolah masih ribet milih sepatu segala.” Akibatnya anak tak mau lagi membuat pilihan sendiri nantinya karena merasa hasilnya hanya membuat orangtuanya marah saja.  (Nakita)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Jadwal

Tidak ada jadwal

Polls

Perkembangan anak-anak saya....