Konsultasi Psikolog

internet_48.pngPara psikolog yang berpengalaman siap membantu keluarga dengan konsultasi psikologi untuk anak, remaja, dan keluarga.
selengkapnya...

Terapi Anak & Remaja

mydocuments_48.pngBeragam jenis terapi dari KANCIL untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, dirancang sesuai kebutuhan. 
selengkapnya ...

Pengayaan Anak & Remaja

mypc_48.pngKANCIL menyediakan layanan pengayaan (enrichment) anak melalui berbagai kegiatan yang dirancang secara profesional.
selengkapnya ...
 

Pendaftaran Acara

Ada Pertanyaan?

Jika Anda memiliki pertanyaan, Anda dapat mengirimkan email kepada kami

Kontak KANCIL

Cerdas Memilih Mainan untuk Anak

Mainan edukatif belakangan ini semakin populer dan banyak dicari karena setiap orang tua pasti ingin anaknya tumbuh cerdas. Memilih mainan seperti ini tak boleh sembarangan, salah-salah justru perkembangan otak anak jadi terhambat.

Psikolog anak dari KANCIL, Ratih Zulhaqqi, M.Psi., mengatakan mainan edukatif ada macam-macam jenisnya dan pemilihannya disesuaikan dengan tahapan tumbuh kembang. Bedanya dengan mainan biasa, mainan ini menawarkan nilai-nilai edukasi sesuai umur di kecil.

 
"Tidak hanya sekadar fun atau menyenangkan saja, tapi juga ada unsur knowledge dan ada latihan problem solvingnya," kata Ratih Zulhaqqi, M.Psi.
 

Hingga usia 6 bulan misalnya, mainan untuk digigit-gigit sudah cukup mengedukasi anak untuk sekedar mengenali lingkungan. Makin dewasa, jenis mainannya makin beragam dan memiliki tingkat kesulitan yang lebih menantang, misalnya puzzle dan lego.

Meski merangsang kemampuan berpikir, paparan racun dalam bahan-bahan yang mungkin digunakan dalam mainan tersebut di sisi lain bisa juga mempengaruhi tumbuh kembang. Proses pembentukan saraf terganggu, dan dalam jangka panjang anak bisa mengalami gangguan kecerdasan.

Salah satu racun yang bisa mengganggu proses pertumbuhan otak adalah timbal, yang banyak dipakai sebagai pemberi warna cerah pada cat dekoratif. Bila dipakai pada mainan anak, pada saat mengelupas maka kandungan logam berat ini bisa terhirup atau tertelan oleh anak.

"Tiap peningkatan kadar timbal dalam darah sebanyak 1 mkg/dL, IQ anak turun sebanyak 2,5 poin," kata Dr Tb Rachmat Sentika, SpA, MARS, pakar tumbuh kembang dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Mainan Kayu Lebih Disukai

Mainan edukatif untuk anak-anak banyak dibuat dari bahan kayu. Meski harganya relatif mahal, tetap saja banyak peminatnya karena mainan dari bahan kayu punya kelebihan dibandingkan plastik atau bahan lainnya.

"Bahannya (mainan edukatif) banyak dibikin dari kayu karena kayu itu paling natural," tutur psikolog Ratih Zulhaqqi, M.Psi.

Ratih mengatakan, salah satu alasannya adalah perilaku anak yang suka menggigit-gigit mainan atau memasukkannya ke mulut. Bahan plastik kurang disukai karena dikhawatirkan bahan kimia dalam plastik yang digunakan tidak aman bila tertelan oleh anak.

Demikian pula dengan bahan lain, yakni besi. Bukan karena mengandung bahan beracun, tetapi Ratih lebih mengkhawatirkan faktor keamanan secara fisik karena besi sangat keras dibanding plastik maupun kayu. Bila mengenai kepala atau bagian tubuh lainnya, mainan besi bisa memicu cedera serius.

"Takutnya kalau dia masih kecil gitu, di bawah tiga tahun enggak sengaja ngenain kepalanya. Kalau dia sudah tingkat SD kan udah bisa mengorganize mainannya," lanjut Ratih.

Meski lebih aman pada anak usia SD, Ratih mengingatkan perlunya asistensi atau pendampingan dan pengawasan dari orang tua bila anak menggunakan mainan dari besi. Untungnya, mainan anak yang dibuat dari bahan besi memang tidak terlalu banyak.

"Saya rasa juga mainan anak yang dari besi tidak terlalu banyak, paling sering mainan outdoor seperti perosotan itu tiangnya yang dari besi tapi perosotannya kan dari plastik. Selain memang kuat kan itu tidak mungkin dipindahkan si anak juga," kata Ratih.

Mainan Kayu vs Video Games

Mainan moderen seperti video games bukan tidak ada manfaatnya. Namun dibandingkan mainan-mainan edukatif yang kebanyakan dibuat dari kayu, video games di mata psikolog kurang melatih kemampuan untuk struggle atau berjuang.

Psikolog anak dari klinik tumbuh kembang KANCIL, Ratih Zulhaqqi, M.Psi., berpendapat bahwa video games juga memiliki sisi edukatif. Salah satunya adalah meningkatkan sensorik motorik, misalnya dalam mencocokkan warna. Namun menurutnya, efeknya tidak terlalu signifikan.

Malah yang banyak itu kekurangannya, karena mainan digital membuat anak terlalu gampang menyelesaikan games-games itu sehingga anak kurang struggle dalam menyelesaikan masalah yang dia hadapi. Masalah di sini ya games-games itu, katanya.

Ratih pun mengomentari orang tua yang kerap bangga bila anaknya mahir memainkan video games, terutama yang bisa dimainkan dengan gadget. Menurutnya, kemahiran tersebut bukan sesuatu yang patut dibanggakan karena anak-anak belum saatnya bergantung pada teknologi tersebut.

Terlebih, orang tua kadang-kadang memberikan gadget sebagai mainan hanya untuk membuat anaknya diam. Bila si anak mulai rewel, maka orang tua tidak mau repot-repot menenangkannya lalu meminjaminya gadget yang ada video gamesnya untuk dimainkan.

Mau nggak mau mereka harus menanggung risikonya yang banyak banget. Seperti itu tadi, anak jadi kurang struggle, kecanduan gadget, atau bahaya terhadap kesehatan. Karena anak nonton tv saja dibatasi maksimal 30 menit sehari, lanjut Ratih.

Kalaupun ada kelebihan video games dibandingkan mainan-mainan yang lebih sederhana seperti mainan kayu, maka hal itu hanya soal tempat. Permainan tradisional seperti congklak misalnya, butuh ruangan yang lapang sementara saat ini kebutuhan seperti ini semakin jarang tersedia.

Harus Kreatif

Mainan yang beredar di pasaran terbuat dari berbagai macam bahan. Tak jarang, dengan harga murah, mainan yang ditawarkan justru mengandung bahan berbahaya. Atau jika tidak mengandung bahan berbahaya, harganya justru mahal. Padahal, mainan anak bisa dibuat sendiri lho di rumah.

 

“Orang tua bisa aja bikin boneka dari kaos kaki bekas terus dikasih bahan lain sebagai mata dan mulut. Atau bisa juga kardus bekas yang bersih dibungkus kertas warna warni dan dijadikan balok-balokan,” tutur Ratih Zulhaqqi, M.Psi.

 

Mainan alternatif lain yang bisa dibuat sendiri di rumah yaitu puzzle. Orang tua bisa mencari gambar yang menarik di internet, mencetaknya, lalu ditempel di karton tebal. Kemudian, gambar tersebut digunting menjadi beberapa bagian layaknya puzzle.

 

Ratih menambahkan, jika anak sudah berusia tiga tahun ke atas, orang tua juga bisa memanfaatkan kaleng bekas misalnya yang dipadu dengan benang untuk membuat telepon-teleponan. Tapi, bagian kaleng yang tajam harus dihilangkan terlebih dulu kemudian dilapisi.

 

“Semua benda di sekitar kita bisa kok dijadikan objek bermain, misalnya tisu gulung selain dia tau bentuk, nanti tisunya kita balut ke tubuhnya terus dia lepas tisunya, itu kan udah bermain juga namanya,” papar Ratih.

 

“Untuk mengenalkan bentuk dan warna enggak mutlak harus pakai mainan edukasi, lewat buah atau sayuran juga bisa, atau benda-benda lain di sekitar kita, pastinya yang enggak berbahaya ya,” pungkasnya. (Detikhealth)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Jadwal

Tidak ada jadwal

Polls

Perkembangan anak-anak saya....