Konsultasi Psikolog

internet_48.pngPara psikolog yang berpengalaman siap membantu keluarga dengan konsultasi psikologi untuk anak, remaja, dan keluarga.
selengkapnya...

Terapi Anak & Remaja

mydocuments_48.pngBeragam jenis terapi dari KANCIL untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, dirancang sesuai kebutuhan. 
selengkapnya ...

Pengayaan Anak & Remaja

mypc_48.pngKANCIL menyediakan layanan pengayaan (enrichment) anak melalui berbagai kegiatan yang dirancang secara profesional.
selengkapnya ...
 

Pendaftaran Acara

Ada Pertanyaan?

Jika Anda memiliki pertanyaan, Anda dapat mengirimkan email kepada kami

Kontak KANCIL

Tangan Kecil, Hati Besar

Senangnya punya anak yang dermawan. Bagaimana melatihnya?

Bunda tentu senang bila si 2 tahun tidak gampang ngambek saat kakaknya minta biskuit coklat miliknya. Atau, di lain kesempatan, dengan manis ia mau meminjamkan bonekanya kepada saudara sepupu yang mampir ke rumah. ia tidak pelit dan hatinya sungguh besar mau dan rela berbagi.

Tetapi, apakah itu mimpi? Bukankah realitanya, balita usia 2-3 tahun justru belum bisa diandalkan untuk berbagi dengan orang lain? “Betul!” ujar Dr. Caron Goode, pendiri Academy for Coaching Parents International dan pemilik situs www.InspiredParenting.net. “Dari sisi perkembangan, anak usia 2-3 tahun memang belum mampu membedakan konsep ‘berbagi suatu benda’ dengan ‘menyerahkan kepemilikan atas benda’, sehingga permintaan berbagi sering mereka terjemahkan sebagai ‘penyerangan’ terhadap dirinya. Mereka bisa berbuat apa pun untuk mempertahankan miliknya, berteriak, bahkan menyerang, dan itu normal,” ujar Dr. Caron.

Namun demikian, Dr. Paul Donahue, psikolog klinis dan penulis buku “Parenting Without Fear” punya keyakinan bahwa perilaku dermawan dan hati yang besar untuk berbagi, bisa dibentuk sejak sedini mungkin. Caranya adalah dengan meniru dan belajar dari orang-orang di sekelilingnya—terutama orangtuanya. “Bila kita ingin memiliki dan membesarkan anak yang dermawan, kita perlu membangun budaya dan kebiasaan ‘memberi’, bukan ‘menerima’,” ujar Dr. Paul.

1.     Membiasakan anak membantu di rumah.

Memberi tidak selalu daam bentuk benda dan uang. Sumbangan tenaga, seperti membantu Bunda menyiapkan makan malam—menata serbet, mengaduk salad, membubuhkan creamer ke kopi ayah—bila dilakukan setiap hari akan membentuk perilaku rela memberi bantuan. Bekerja sama di rumah juga adalah cara yang positif untuk menyadarkan anak bahwa dirinya bagian dari suatu kebersamaan, dan dia tidak hidup sendiri.

2.     Ajarkan anak untuk respek dan peduli pada lingkungan dan sesama, jadikan diri Anda role model atau panutannya. Respek dan kepedulian adalah dasar dari perilaku mengantre, bergantian, dan kedermawanan. Mulai dulu dari diri anda, dengan misalnya berbicara sopan pada siapapun—pasangan, orangtua, asisten rumah tangga, pramusaji di restoran dan seterusnya. Dan, kontrol rasa frustasi Anda dengan bersikap sabar saat di antrean, tidak marah ketika kendaraan Anda disalip, atau tidak mendelikkan mata saat dikritik ibu Anda. Pahami betul bahwa anak selalu memperhatikan anda.

3.     Ajarkan anak berbagi dengan teman dalam playdate. Bermain bersama memberi peluang pada si 2 tahuhn untuk saling meminjamkan mainan atau berbagi camilan. Saat merancang playdate, pastikan anak-anak membawa 2-3 mainan masing-masing dan bekal dalam jumlah lebih. Namun, jangan paksa bila ada anak yang belum mau berbagi. Bisa jadi karena ia belum merasa nyaman atau akrab dengan temannya.

4.     Demonstrasikan kedermawanan Anda sebab balita perlu petunjuk dari orangtuanya sebelum “mengkkopi” suatu tindakan. Saat membereskan rak buku Anda, ceritakan saja pada si kecil bahwa, “Buku ini sudah bunda baca berkali-kali, tetapi teman Bunda, Tante Donna, pasti belum pernah baca. Bunda bisa saja menyimpan buku ini, tapi lebih baik Bunda berikan saja ya ke Tante Donna supaya dia bisa membacanya.”

5.     Diskusikan kebutuhan dan keinginan orang lain untuk mengingatkan anak bahwa, “Di dunia ini anak tidak hidup sendirian, dan bahwa orang lain juga punya keinginan dan kebutuhan,” tulis Wayne Dosick dalam buku “The Ten Ethical Values parents Need to Teach Their Children.” Ketika anak berkata,  Bunda, aku mau es krim”, maka jawablah, “Bunda tahu tuh, teman kamu, Dito, juga senang makan es krim. Sudah lama ya, dia nggak main di rumah kita. Ajak dia kesini makan es krim, yuk!”

6.     Tunjukkan secara konsisten Anda tidak suka sifat egois dan pelit tapi ekspresikan dengan lembut. Ini juga akan menanamkan standar kedermawanan keluarga pada anak. Misalnya katakan, “Bunda tidak suka ketika kamu menyembunyikan mainanmun sewaktu sepupumu datang.” Lalu tekankan, “Di keluarga kita, kita biasa berbagi. Jadi, mau ya kamu pinjamkan mainan ke kakak Vian?”

7.     Pilah mainan yang bisa dipinjamkan atau diberikan pada anak lain karena kita pun menyadari tidak mudah bagi anak—dan kita sendiri—untuk berbagi semuanya, kata Paul Coleman, psikolog dan penulis buku “How to Say It to Your Kids”. Bersama anak, pisahkan mainan yang bisa ia pinjamkan dan yang “eksklusif” baginya. Jadi, tidak ada lagi ketegangan saat anak lain datang.

8.     Puji saat anak berbagi.

Ungkapkan betapa bangganya Anda atau katakan, “Kamu baik sekali mau berbagi kuemu dengan Bunda.” Anak akan merasa bahagia sebab telah membahagiakan Anda. Lama-lama, perilaku deermawan akan terbentuk secara alamiah di dalam dirinya.

Berbagi di Panti

Tanpa perlu banyak penjelasan, suasana bahagia di panti dan melihat Anda berbagi dengan orang lain akan mengajarkan anak kedermawanan dan mendapat banyak teman baru.

Pilih panti asuhan untuk anak usia sebaya anak Anda.

Pilih waktu ketika anak sehat dan bugar untuk berbagi di panti.

Ajak anak ikut membagikan kue atau bingkisan kepada penghuni panti.

Tak musti selalu menyumbang, menyaksikan anda menjadi volunteer pun, memberinya pelajaran berharga. (AB)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Jadwal

Tidak ada jadwal

Polls

Perkembangan anak-anak saya....