Konsultasi Psikolog

internet_48.pngPara psikolog yang berpengalaman siap membantu keluarga dengan konsultasi psikologi untuk anak, remaja, dan keluarga.
selengkapnya...

Terapi Anak & Remaja

mydocuments_48.pngBeragam jenis terapi dari KANCIL untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, dirancang sesuai kebutuhan. 
selengkapnya ...

Pengayaan Anak & Remaja

mypc_48.pngKANCIL menyediakan layanan pengayaan (enrichment) anak melalui berbagai kegiatan yang dirancang secara profesional.
selengkapnya ...
 
Menghadapi Teman Yang Agresif

Apakah harus diam saja saat menghadapi teman yang agresif atau justru membalasnya dengan kekerasan?

komunikasi_negatif.jpgKeisha punya teman bernama Fala. Tidak satu kelas, Keisha TK B1 sementara Fala TK B2. Namun bagi gadis cilik berusia 4 tahun itu, Fala begitu menjengkelkan. Keisha pernah jatuh gara–gara didorong oleh Fala. Ceritanya terjadi sewaktu pelajaran olahraga di halaman sekolah. Keisha yang dianggap berlari terlalu lambat, didorong hingga jatuh oleh Fala. Tidak luka memang, hanya membuat Keisha menangis dan ya itu…sebal pada Fala. Di lain waktu, teman sekelas Fala, Eriq juga menangis lantaran dipukul oleh anak berusia 4,5 tahun itu. Gara–garanya, karena Eriq tak mau meminjamkan krayon warna biru yang diingini Fala.

Fala pada ilustrasi diatas merupakan salah satu contoh anak yang agresif. Emosi anak–anak usia 4–5 tahun memang masih labil. Bila ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan, ia dapat meluapkannya dengan tindakan mendorong, memukul, menjambak, mencubit, dan lainnya. Pengertian sikap agresif sendiri merupakan tindakan menyakiti orang lain yang sengaja dilakukan. Tindakan ini juga dilakukan berulang kali, bisa pada satu orang saja atau sekaligus pada beberapa orang.

Bentuk agresivitas yang umumnya dilakukan anak usia TK masih berupa fisik. Mereka lebih cenderung menggunakan kekuatan fisik seperti menendang, memukul, mencubit, atau menarik baju atau rambut temannya. Pada usia 5 tahun atau mendekati 6 tahun, anak bisa juga mulai melakukan agresi verbal.

Sikap Asertif

Pertanyaannya, bagaimana membekali anak agar dapat mengatasi teman yang agresif? Apa pun karakter sang buah hati, apakah ia seorang pendiam yang tak pernah mau membalas atau justru yang suka balik melawan, yang terpenting adalah mengajarinya agar mau bersikap asertif.

Asertif adalah sebuah kemampuan untuk dapat mempertahankan hak–hak pribadi tanpa bertindak agresif atau melecehkan. Jadi, asertif merupakan jalan tengah diantara sikap pasif dan agresif.

Dalam bersikap asertif, anak tidak diam saat ada anak lain yang mengganggu. Sikap diam jelas sangat merugikan dan merupakan perilaku tidak sehat dalam sebuah hubungan sosial. Amarah anak dipendam, sehingga suatau saat akan meledak. Sebaliknya, ia juga tidak serta merta merespons gangguan dengan sikap agresif, sehingga berujung pada perkelahian. Seperti kata pepatah, orang yang berkelahi keduanya akan mengalami kerugian. Yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu. Lagipula, kekerasan yang dibalas kekerasan bukanlah solusi, melainkan akan melahirkan kekerasan baru.

 
Sungguh bijak sejak dini anak diajarkan menggunakan kata “saya” ketika hendak mengekspresikan diri. Saat ada anak lain mencoba mendorong atau memukulnya, ia bisa berkata, “Saya tak mau didorong”  atau  “Saya tak mau dipukul”, dan lain–lain.
 

Dalam situasi tertentu, sikap asertif anak mungkin tidak berhasil lantaran sang teman tidak mengindahkan kata–katanya dan terus mengganggu. Bila ini yang terjadi, anak bisa diajarkan untuk menghindar. Anak bisa menjauh atau mengambil jarak dari teman yang bertindak agresif  itu. Sikap ini sekaligus dapat membantu anak untuk menenangkan diri, sehingga emosinya tidak ikut–ikutan meledak.

Jika anak sudah melakukan tindakan untuk mencegah atau menangani sendiri dan belum berhasil, maka sebaiknya minta bantuan orang dewasa yang di dekatnya. Kalau di sekolah, dengan guru kelas. Kalau di rumah bisa dengan pengasuh atau orangtua.

Konflik Tambah Sengit

Nah, kalau anak tidak diajarkan cara menangani teman yang agresif, maka anak menjadi tidak terampil menghadapi konflik. Bisa jadi ia akan melawan sikap keras yang diterima dengan sikap yang lebih keras, sehingga konflik menjadi tambah sengit.

Ia juga bisa menjadi perilaku agresif kepada sosok yang dianggap lemah. Atau sebaliknya, ia menjadi sosok pasif dan selalu menjadi korban bulan–bulanan teman–temannya. Bila ini terjadi, dapat dibayangkan apa yang terjadi dengan psikis anak, ia bisa menjadi pribadi yang tidak percaya diri, selalu mengalah, tidak yakin dengan kemampuan diri, dan sebagainya.

Cari Jalan Keluar

Di sisi lain, orangtua perlu melakukan beberapa upaya saat anak menjadi korban teman yang agresif, seperti :

  • Pahami  situasi  yang  terjadi. Jangan gampang menuduh si teman sebagai anak yang salah sementara anak adalah korban. Lakukan observasi secara objektif. Siapa tahu temannya memukul karena mainannya direbut atau permainannya diganggu. Jika kejadiannya di sekolah, minta bantuan pihak sekolah untuk melakukan mediasi kedua belah pihak. Hal yang jelas, konflik harus diatasi dengan bijak dan tenang, sehingga berujung pada pembelajaran bagi anak.

  • Jika terjadi di lingkungan rumah, upayakan untuk memisahkan terlebih dulu anak dan temannya yang sedang bertikai. Lalu, panggil keduanya dan saksi jika ada. Tanyakan urutan kejadian dan cari tahu penyebabnya. Cara lain, dekati si teman anak yang melakukan sikap agresif dan katakan memukul, menjambak, mencubit, tidak dibenarkan. Tekankan bila ia tidak menyukai sesuatu, katakan secara baik–baik. Jangan lupa, seusai didamaikan, minta kedua anak yang berkonflik untuk bersalaman.

  • Konflik yang berujung tindak agresif mungkin karena satu sama lain belum mengenal. Karena itu, perlu dicari waktu bermain bersama sehingga keduanya saling mengenal.

  • Hal lain yang perlu diperhatikan adalah anak pada usia ini melakukan agresi lebih disebabkan faktor lingkungan. Dalam arti, harus dilihat dulu pola asuh dalam keluarga dan bukan berarti anak kita langsung dijauhkan, melainkan perilakunya dikoreksi sehingga menjadi lebih baik.

  • Biasakan bersikap asertif dalam kehidupan sehari–hari. Anak harus berani mengungkapkan ketidaknyamannya. Ia harus berani berkata, “bukan yang itu”,  “bukan begitu”, begitu juga saat mendapatkan sesuatu tidak sesuai pesanannya. Misal, anak memesan permen karet, tapi yang didapatkannya malah permen loli. Dalam kasus itu, anak harus berani mengungkapkan keinginan yang sebenarnya. Jika perlu, gunakan gambar atau buku cerita yang berkaitan dengan sikap asertif tersebut.

Dengan berbagai sikap itu, diharapkan sikap asertif anak akan terbangun, sehingga anak sudah tahu bagaimana bersikap pada teman yang agresif dan mengganggu. (Nakita)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >