PROGRAM "KELAS" KANCIL

recyclebin_48.png Selain melayani konsultasi psikologi, Kancil juga membuka beberapa "kelas" yang dapat diikuti oleh para orang tua, anak maupun anggota keluarga yang lain. Selengkapnya...

 

Konsultasi Psikolog

internet_48.pngPara psikolog yang berpengalaman siap membantu keluarga dengan konsultasi psikologi untuk anak, remaja, dan keluarga.
selengkapnya...

Terapi Anak & Remaja

mydocuments_48.pngBeragam jenis terapi dari KANCIL untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, dirancang sesuai kebutuhan. 
selengkapnya ...

Pengayaan Anak & Remaja

mypc_48.pngKANCIL menyediakan layanan pengayaan (enrichment) anak melalui berbagai kegiatan yang dirancang secara profesional.
selengkapnya ...
 

Pendaftaran Acara

Kelas Yoga untuk Anak

Ada Pertanyaan?

Jika Anda memiliki pertanyaan, Anda dapat mengirimkan email kepada kami

Kontak KANCIL

Memahami Perkembangan Psikososial Anak

Orangtua perlu memahami ciri-ciri anak usia sekolah terkait perkembangan psikososialnya, agar dapat memberikan respons dan arahan yang sesuai.

usia_nge-geng.jpg

K
etika kita bicara mengenai perkembangan manusia, pada umumnya terbagi dalam 3 aspek, yaitu : perkembangan fisik, perkembangan kognitif, serta perkembangan psikososial. Perkembangan fisik paling mudah diamati dari seluruh aspek perkembangan lain. Pertumbuhan badan, kemampuan motorik, kesehatan, merupakan bagian dari perkembangan fisik. Perkembangan kognitif meliputi hal–hal seperti belajar, daya ingat, perkembangan bahasa, proses berpikir, daya kreativitas. Sedangkan perkembangan psikososial meliputi perubahan dan stabilitas dalam kepribadian dan hubungan sosial seseorang.

Faktor psikososial, kognitif, dan fisik bisa sangat berkaitan. Misalnya, seorang anak yang cemas saat menghadapi ulangan (sakit perut, tangan berkeringat, dan lain–lain), hasil ulangannya menjadi tidak optimal karena kecemasannya itu. Dukungan sosial seperti support dari orang–orang disekitarnya bisa membantu anak dalam mengatasi dampak negatif yang mungkin terjadi.

Anak usia 6–12 tahun merupakan anak usia sekolah. Mereka semakin mandiri dalam mengurus keperluan diri (self help) dibanding waktu mereka TK dulu.

Misalnya, mandiri sendiri, berpakaian tanpa dibantu, merapikan kamarnya, dan sebagainya. Mereka juga mulai dapat dipercaya untuk memberikan tanggung jawab tertentu, baik di rumah maupun di sekolah. Seperti bertugas memberi makan hewan peliharaan, menyalakan lampu rumah di sore hari, menyiapkan meja makan. Hal yang perlu diperhatikan orangtua adalah beri tanggung jawab sesuai dengan kemampuan dan usia anak.

Anak usia 6–12 tahun juga memiliki minat untuk berteman yang semakin tinggi. Pada anak usia SD awal, mereka bisa saja memiliki beberapa sahabat dan satu atau dua orang “musuh”. Perubahannya juga bisa sangat cepat. Misal,” kalau kamu main sama Susi, aku enggak mau temanan lagi!” atau “Aaaah…kamu mainnya curang! Musuhan!” Meski demikian, mereka bisa kembali bermain bersama setelah saling memaafkan. Pada anak usia SD akhir, mereka akan semakin sering menghabiskan waktu dengan teman–temannya. Misal, jalan–jalan ke mall bersama teman, menginap di rumah teman.

Yang perlu orangtua pahami, kemampuan bersosialisasi anak usia sekolah sudah lebih luas. Anak akan berelasi dan berinteraksi tidak hanya dengan teman sebayanya di rumah atau di sekolah, tetapi juga dengan kakak kelasnya, gurunya, teman orangtuanya, teman kakaknya, dan lainnya. Berbeda ketika ia masih batita, misalnya, yang hanya mengenal keluarga dan orang–orang terdekatnya.

Ciri Khas Si Usia Sekolah

Untuk itu, orangtua perlu memahami ciri–ciri anak usia sekolah terkait perkembangan psikososialnya, agar dapat memberikan arahan yang sesuai. Berikut ulasan yang dijabarkan oleh psikolog anak dari KANCIL, Adisti Soegoto, M.Psi.

·        Usia 6 tahun

      Anak usia 6 tahun mulai membangun persahabatan dengan satu atau dua anak lain. Namun, dalam pertemanan mereka masih sangat dipengaruhi suasana hatinya. Seseorang teman bisa menjadi “teman terbaik” dalam satu hari dan menjadi “teman terburuk” dihari berikutnya. Pada umumnya mereka mengalami kesulitan untuk mengatur atau menenangkan dirinya, tidak bisa terima jika dikoreksi atau kalah dalam permainan, bisa merajuk, menangis, tidak mau bermain, atau menciptakan kembali peraturan untuk memenuhi keinginannya. Mereka mengetahui kalau dirinya berbuat “nakal” memandang “baik” dan “buruk” berdasarkan aturan di rumah atau sekolah.

Tip bagi orangtua :

Ciptakan kebiasaan tertentu di rumah untuk mengembangkan kemandiriannya, seperti merapikan mainan setiap habis digunakan, menaruh piring dan gelas yang dipakai di rak cucian. Orangtua dapat melibatkan anak dalam beberapa kegiatan seperti memasak, membangun sederhana dengan balok, merakit mainan tertentu. Hindari mainan yang menggunakan tenaga baterai dan mainan mekanis lainnya karena kurang membutuhkan keterlibatan anak dan hanya sedikit pembelajaran yang berlangsung.

·        Usia 7 tahun

      Pada umumnya, anak usia 7 tahun memilih teman dengan jenis kelamin yang sama dan lebih senang bermain dalam kelompok. Bagi mereka, teman/sahabat itu penting. Meski demikian, mereka bisa menemukan banyak hal yang bisa dilakukannya jika tidak ada teman. Mereka lebih jarang bertengkar, walaupun masih terjadi perselisihan dan suka mengadu, baik dalam permainan dua orang maupun kelompok.

Tip bagi orangtua :

Ajak anak bergabung dalam kegiatan tertentu yang sesuai dengan minatnya, seperti renang, melukis, futsal, dan sebagainya. Orangtua juga bisa mengajak anak berjalan bersama di sekitar rumah, taman, pantai, dan sebagainya. Ciri hal–hal menarik yang dapat ditemukan bersama.

·        Usia 8 tahun

      Hampir sama dengan anak usia 7 tahun, anak usia 8 tahun senang bermain dengan 2 atau 3 orang sahabat, yang biasanya sama dengan usia dan jenis kelaminnya. Mereka menyukai permainan dan kegiatan tim, kegiatan kompetitif, dan olahraga. Mereka mencari penerimaan dari temannya, misal meniru cara berpakaian, gaya rambut, gaya berbicara, teman yang mereka kagumi.

Tip bagi orangtua :

Sediakan (dan ikut dalam) permainan yang membutuhkan strategi namun tidak terlalu sulit seperti halma atau permainan kartu. Ajak anak mengembangkan keterampilan dalam kegiatan yang tidak bersifat kompetitif, seperti, berenang, menari atau memainkan alat musik. Orangtua juga dapat memberi tugas rutin pada anak seperti memberi makan hewan peliharaan atau menata meja makan untuk membentuk rasa tanggung jawab.

·        Usia 9–10 tahun

Mereka senang menghabiskan waktu bersama teman–teman, mencari persahabatan berdasarkan kesamaan minat dan kedekatan (tetangga, teman sekelas). Mereka kadang mengomentari anak yang berbeda jenis kelamin seperti “anak cowok suka kasar” atau “anak perempuan suka manja”. Mereka senang berkelompok dan membuat kode atau isyarat rahasia tertentu untuk berkomunikasi. Selain itu, mereka juga menawarkan diri untuk melakukan tugas rumah tangga yang sederhana, seperti menyapu, merapikan barang pajangan, dan lain–lain. Mereka juga mengembangkan hobi atau mengoleksi benda tertentu sesuai minat.

Tip bagi orangtua :

Manfaatkan kesempatan pembelajaran dalam masyarakat. Ajak anak ke pasar, museum, pantai. Tingkatkan minat anak untuk mempelajari dan menghargai keanekaragaman adat istiadat atau budaya lain. Kita dapat manfaatkan buku, situs web, melihat perayaan budaya lain, mendengarkan alat musik daerah tertentu atau mencicipi kuliner khas daerah tertentu.

·        Usia 11–12 tahun

Anak usia 11–12 tahun bisa dikatakan berada pada tahap praremaja. Mereka semakin sadar diri dan semakin fokus pada diri sendiri. Bagi mereka, image diri sangat penting. Mereka bisa mendeskripsikan dirinya melalui penampilan, barang miliknya, atau kegiatan yang disukainya. Mereka menyadari bahwa kesetiaan, kejujuran, bisa dipercaya, dan menjadi pendengar adalah syarat untuk menjadi teman yang baik. Mereka mulai lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman sebaya dibanding dengan keluarga. Selain itu, anak usia 11–12 tahun menjadi lebih kritis terhadap hal–hal di sekitarnya, menunjukkan minat terhadap budaya, bahasa, atau adat istiadat lain.

Tip bagi orangtua :

Bantu anak mengembangkan rasa tanggung jawabnya dengan memberikan tugas yang dapat dikerjakan secara teratur, seperti memelihara binatang peliharaan, membereskan meja makan, merapikan kamarnya sendiri. Kita juga dapat mengembangkan inisiatifnya dengan melibatkan anak dalam perencanaan liburan atau kegiatan akhir pekan. (Nakita)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Jadwal

Tidak ada jadwal

Polls

Perkembangan anak-anak saya....