PROGRAM "KELAS" KANCIL

recyclebin_48.png Selain melayani konsultasi psikologi, Kancil juga membuka beberapa "kelas" yang dapat diikuti oleh para orang tua, anak maupun anggota keluarga yang lain. Selengkapnya...

 

Konsultasi Psikolog

internet_48.pngPara psikolog yang berpengalaman siap membantu keluarga dengan konsultasi psikologi untuk anak, remaja, dan keluarga.
selengkapnya...

Terapi Anak & Remaja

mydocuments_48.pngBeragam jenis terapi dari KANCIL untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, dirancang sesuai kebutuhan. 
selengkapnya ...

Pengayaan Anak & Remaja

mypc_48.pngKANCIL menyediakan layanan pengayaan (enrichment) anak melalui berbagai kegiatan yang dirancang secara profesional.
selengkapnya ...
 
Mengenal Potensi Anak

potensi_anak.jpgSetiap anak lahir dengan membawa potensinya masing–masing. Tugas orangtualah untuk menemukan dan mengembangkan potensi anaknya itu.

M
asih ingat, kan, dengan teori kecerdasan majemuk (multiple intelligence)  dari Howard Gardner? Menurut profesor pendidikan pada Universitas Harvard, Amerika Serikat ini, kecerdasan manusia dapat dikelompokkan menjadi 8 jenis, yaitu : Kecerdasan musical, kecerdasan kinestetik (gerak tubuh), kecerdasan logika–matematika, kecerdasan visual–spasial, kecerdasan linguistik (bahasa), kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Belakangan, Gardner menambahkan satu jenis kecerdasan lagi, yaitu kecerdasan spiritual, sehingga semuanya ada 9 jenis kecerdasan.

Jadi orangtua tak perlu khawatir anaknya tidak cerdas/pintar, karena setiap anak memiliki beragam kecerdasan. Tugas orangtua adalah berupaya menemukan kecerdasan mana yang paling menonjol dalam diri anaknya untuk kemudian mengembangkannya sehingga menjadi modal bagi anak dalam berkarya di kemudian hari. Jika nilai–nilai pelajaran matematikanya selalu kurang, bisa jadi memang bukan kecerdasan logika matematikanya yang menonjol. Masih ada potensi lain yang dapat dikembangkan, mungkin kecerdasan linguistiknya atau malah kecerdasan musikalnya yang menonjol pada anak.

TIDAK MEMAKSA ANAK

Nah, bagaimana cara menemukan dan mengembangkan potensi anak? Pengalaman Dr. Hj. Nurlaila NQM Tientje, M.Pd.,  mungkin bisa menginspirasi. Beliau mengaku memberikan kebebasan kepada anak–anaknya untuk mengembangkan bakat dan minatnya masing–masing.

“Saya tidak memaksa anak untuk ‘serius’ dengan pelajaran sekolah, tapi bukan berarti membiarkan dengan begitu saja pelajaran di sekolah. Saya tetap memberikan pengertian bahwa pelajaran di sekolah adalah dasar–dasar ilmu yang memang harus diketahui, dipahami, dan dimengerti. Namun, sisi lain ada bakat, hobi, dan minat yang harus juga diasah dan dikembangkan. Jadi, saya memberikan kebebasan ketika anak–anak ingin mengembangkan minatnya,” kata ibu tiga anak yang akrab disapa Tientje ini.

Anak pertamanya laki–laki, hobi memasak dan ia tak pernah melarang si sulung masuk dapur. Ketika sekolah anaknya (SMP) mengadakan bazar, ia pun mendukung si sulung membuka stan masakan Indonesia dan melakukan demo masakan Indonesia. Kala itu mereka mukim di Jepang. Bahkan, stannya ramai dikunjungi orang hingga si sulung mendapatkan penghargaan dari sekolahnya.

Anak keduanya, perempuan, menari. Sejak kecil sampai dengan kuliah, ia aktif menari dan beberapa kali mendapat penghargaan. “Ternyata, dengan memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan bakat menarinya malah menjadikan dirinya lebih semangat dalam belajar ia berusaha untuk membagi waktu dengan baik. Prestasi di sekolahnya juga bagus dan berhasil dapat beasiswa ke Belanda. Tidak hanya itu, ketika harus tampil dengan budaya asalnya, ia tak ragu dan percaya diri untuk menari. Nah, modal percaya diri ini juga mampu menambah keyakinan untuk belajar dengan baik di sana,” papar Tientje.    

Sementara si bungsu, juga perempuan (15), sejak SD hobi tenis meja, berhasil meraih prestasi dari bakatnya itu. ”Bebarapa kali ia ikut kejuaraan nasional dan berprestasi. Sampai akhirnya, ia berhasil masuk SMP negeri favorit melalui jalur prestasi di bidang tenis meja itu. Jadi, orangtua memang tidak perlu terlalu ‘memaksa anak’  untuk meraih prestasi di akademik atau di sekolah saja. Kembangkan bakat atau kecerdasan lain yang dimiliki oleh anak,” tandas Tientje.

5 KIAT

Berangkat dari pengalamannya itu, Tientje pun memberikan kiat–kiat menemukan dan mengembangkan potensi anak. Apa saja? Ini dia!

1.     Lakukan pengamatan.

Seperti sudah disinggung di atas, orangtua tak perlu takut. Tidak memiliki kecerdasan matematika, masih ada potensi yang lain yang dapat dikembangkan, entah itu kecerdasan musical, bahasa, kinestetik, dan lainnya. Nah, untuk mengetahui potensi atau kecerdasan anak dibidang lain, orangtua perlu melakukan pengamatan.

Selain dengan mengamati perilaku sehari–hari anak, juga mendengarkan cerita anak tentang aktivitas sehari–harinya. Percayalah, bila pengamatan dilakukan dengan tekun, niscaya orangtua bakal menemukan bakat anaknya. Lagi pula, orangtua memang sudah ditakdirkan memiliki kepekaan untuk mengamati kecerdasan ganda yang dimiliki anaknya.

Hindari terlalu sering mengomentari kesalahan–kesalahan anak. Cobalah untuk mulai mengomentari kelebihan–kelebihan anak, sehingga anak merasa terangkat harga dirinya.

2.     Berikan kesempatan untuk tampil

Orangtua bisa bekerjasama dengan guru di sekolah agar anak boleh mendapat kesempatan untuk tampil memperlihatkan keterampilannya. Misal, di pentas seni, bila anak memiliki keterampilan bermain musik atau menari.

Sesekali minta anak menunjukkan ketarampilannya secara mendadak atau kejutan. Kejutan–kejutan yang dilakukan bisa lebih menstimulasi keterampilan anak, karena pada dasarnya anak menyukai untuk tampil. Tak lupa, berikan pendapat untuk lebih mengembangkan keterampilannya.

Selain itu, tak ada salahnya orangtua cermat mengamati berbagai ajang yang dapat dimanfaatkan untuk tampil, seperti aneka lomba atau sekadar tampil pada acara tertentu.

3.     Berikan apresiasi ketika anak tampil

Pujian atau penghargaan ketika anak berhasil tampil bagus, mampu mendorong anak untuk lebih mengembangkan keterampilannya itu. Sekadar pelukan atau ciuman sudah sangat berarti bagi anak. Bisa juga orangtua memberikan makanan kegemaran anak. Pastinya, penghargaan yang di berikan dengan spontan dan tulus akan dikenang oleh anak.

4.     Terapkan disiplin

Dengan menerapkan disiplin pada anak akan membuatnya lebih bertanggung jawab dan dapat lebih mengembangkan keterampilan yang dimiliki. Umumnya, disiplin yang diterapkan bukanlah sesuatu yang kaku, melainkan dengan tetap memegang komitmen atau kesepakatan awal. Umpama, anak akan berlatih setiap sabtu pagi. Namun, pada suatu sabtu ada tugas dari sekolah yang harus dipenuhi, maka anak tetap mengupayakan untuk berlatih, hanya waktunya saja yang diubah.

5.     Konsisten

Ajak anak menciptakan sebuah kebiasaan atau rutinitas yang konsisten. Bila anak akan berlatih untuk mengembangkan ketarampilan itu setiap hari sabtu, maka pilih waktu yang memang anak sudah selesai belajar, sehingga sebisa mungkin waktu belajarnya. (Nakita)

Selamat menemukan dan mengembangkan potensi si buah hati! Smile

 
< Sebelumnya   Berikutnya >