PROGRAM "KELAS" KANCIL

recyclebin_48.png Selain melayani konsultasi psikologi, Kancil juga membuka beberapa "kelas" yang dapat diikuti oleh para orang tua, anak maupun anggota keluarga yang lain. Selengkapnya...

 

Konsultasi Psikolog

internet_48.pngPara psikolog yang berpengalaman siap membantu keluarga dengan konsultasi psikologi untuk anak, remaja, dan keluarga.
selengkapnya...

Terapi Anak & Remaja

mydocuments_48.pngBeragam jenis terapi dari KANCIL untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, dirancang sesuai kebutuhan. 
selengkapnya ...

Pengayaan Anak & Remaja

mypc_48.pngKANCIL menyediakan layanan pengayaan (enrichment) anak melalui berbagai kegiatan yang dirancang secara profesional.
selengkapnya ...
 

Pendaftaran Acara

Kelas Yoga untuk Anak

Ada Pertanyaan?

Jika Anda memiliki pertanyaan, Anda dapat mengirimkan email kepada kami

Kontak KANCIL

4 Jenis Kesulitan Belajar yang Kerap Terjadi

sulit_belajar2.jpgDengan kesadaran dan kesabaran orang tua serta guru, semua ini bisa diatasi.

Adapun jenis-jenis kesulitan belajar yang kerap terjadi pada anak sebagai berikut :

Gangguan Konsentrasi

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder-IV-TR (DSM-IV-TR) edisi terbaru panduan bagi psikiater maupun psikolog dalam mendiagnosis gangguan pada individu, setidaknya ada 8 ciri anak dengan gangguan konsentrasi, yaitu ceroboh mengerjakan tugas, gagal mempertahankan konsentrasi pada tugas, gagal mengnikuti instruksi atau tugas tidak selesai, terlihat seolah tidak mendengar saat diajak bicara, kesulitan mengelola tugas dan kegiatan pribadi, mudah lupa, dan mudah terganggu.

Enam saja dari ciri tersebut terdeteksi pada seseorang, maka ia sudah memenuhi kriteria mengalami gangguan konsentrasi. Pada beberapa anak, gangguan konsentrasi biasanya diikuti oleh hiperaktivitas dan impulsivitas.

Deteksi dini gangguan konsentrasi sesungguhnya dapat dilakukan sejak balita. Namun biasanya diagnosis baru diberikan saat anak berusia sekolah karena dampak gangguan ini nyata terlihat dalam kehidupan belajar anak.

TIGA PENYEBAB

1.  Faktor Eksternal

Lingkungan. Misalnya, anak diberi tugas menggambar. Pada saat  yang bersamaan, ia mendengar suara ramai dan itu lebih menarik perhatiannya sehingga tugasnya pun diabaikan. Berarti lingkungan memengaruhi  konsentrasinya.

Pola pengasuhan yang permisif, yaitu pengasuhan yang bersifat menerima atau membolehkan apa saja yang anak lakukan. Pada kasus ini anak yang kurang dilatih untuk menyelesaikan suatu tugas sampai selesai. Jika ia mengalami kesulitan, orangtua membantunya sehingga ia mampu menyelesaikannya, tidak dibiarkan saja anak beralih melakukan sesuatu yang lain.

2. Faktor Psikologis

Anak mengalami tekanan ketika mengerjakan sesuatu sehingga tidak konsentrasi dan tidak fokus dalam menyelesaikan pekerjaannya. Contoh, suasana di sekolah yang berbeda dari suasana di rumah. Anak kaget, karena mempunyai teman yang lebih berani, sehingga ketakutan dan kekhawatiran si anak membuatnya sulit untuk konsentrasi. Akibatnya, konsentrasinya di kelas dalam menerima pelajaran berkurang. Hal ini terutama terjadi pada anak yang kemampuan sosialisasinya minim.

3. Faktor Internal

Konsentrasi atau perhatian biasanya berada di otak daerah frontal (depan) dan parientalis (samping). Gangguan di daerah ini bisa menyebabkan kurang atensi atau perhatian. Jadi, karena sistem di otak dalam memformulasikan fungsi-fungsi aktifitas, seperti penglihatan, pendengaran, motorik dan lainnya diseluruh jaringan otak itu terganggu, maka anak tidak dapat berkonsentrasi karena input yang masuk ke otak terganggu. Akibatnya stimulasinya pun tidak bagus. Gangguan ini bukan merupakan bawaan melainkan bisa didapat, misalnya karena terkena infeksi otak.

PENANGANAN

* Mencari tahu penyebab kesulitan anak berkonsentrasi.

Misal, ketika mengikuti lomba mewarnai, anak bisa melihat pekerjaan teman sehingga  ia tidak mengerjakan gambarnya. Hal ini bisa disebabkan oleh kesempatan  bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya kurang, sehingga ketika berada diluar rumah ia begitu senangnya sampai lupa dengan tugasnya. Orangtua harus cerdik mencari solusi yang tepat, seperti membuka kesempatan anak bergaul seluas-luasnya dengan teman sebaya atau menyediakan berbagai aktifitas  menarik yang tidak membutuhkan waktu lama untuk dikerjakan, terutama di usia balita yang memang rentang perhatiannya masih pendek.

* Mencari strategi yang sesuai 

Masuk usia 4-5 tahun anak mulai paham dan bisa diajak kerja sama. Katakan, saat mengikuti lomba mewarnai anak diminta menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu. Jika ia cepat menyelesaikan tugasnya, ia akan diajak  berjalan-jalan dan bermain. Jika anak terlalu lama, ia tidak jadi diajak jalan. Harapannya anak lebih berkonsentrasi untuk menyelesaikan tugasnya. Prinsipnya, orangtua bisa menentukan target dan waktu pencapaian sesuai dengan kemampuan anak. Begitu juga dalam penerapannya, orangtua bisa menggunakan pemberian hadiah, pujian atu pemberian yang ia suka sehingga anak termotivasi untuk menyelesaikan apa yang sedang ia lakukan.

* Melakukan aktifitas yang dapat melatih konsentrasi anak

Membuat tanda waktu sehingga anak sadar bahwa dalam mengerjakan tugas ada time limitnya.

Stimulasi layaknya belajar disekolah. Usahakan setting tempat belajarnya juga seperti di kelas. Saat mengajar, usahakan seperti gurunya di sekolah, jadi tidak selalu duduk disamping anak.

Memecah waktu belajarnya menjadi beberapa kali. Contoh, waktu belajar yang satu jam, kita pecah menjadi tiga kali dalam satu jam (per 20 menit) selingi dengan istirahat selama lima menit.

Bila anak sudah konsisten dengan waktu 20 menit bisa kita tambah waktu belajarnya menjadi 30 menit dan seterusnya.

Diskalkulia, Kesulitan dalam Berhitung

DISKALKULIA dikenal juga dengan istilah “math difficulty” karena menyangkut gangguan pada kemampuan kalkulasi serta proses matematis. Kesulitan ini dapat ditinjau secara kuantitatif, yang terbagi menjadi bentuk kesulitan berhitung (counting) dan mengkalkulasi (calculating).

Seorang peneliti Steeves (1983) menyatakan, banyak anak disleksia yang genius di bidang matematika. Sementara Joffe (1990) melaporkan 10% anak disleksia menunjukkan prestasi yang sangat baik  di bidang matematika, sedangkan 30% lainnya tidak menunjukkan kesulitan sama sekali di bidang hitung-menghitung.

Salah satu faktor ilmuan besar dunia, Albert Einstein, di awal usia sekolahnya menunjukkan kesulitan yang amat sangat di bidang aritmetika. Beruntung, di kemudian hari Albert Einstein tidak membiarkan diskalkulia yang dialaminya menghambatnya untuk terus berkarya di bidang matematika.

PENYEBAB

1. Kelemahan pada proses penglihatan atau visual.

Anak yang memiliki kelemahan ini kemungkinan besar akan mengalami diskalkulia. Ia juga berpotensi mengalami gangguan dalam mengeja dan menulis dengan tangan.

2. Bermasalah dalam hal mengurut informasi.

Seorang anak yang mengalami kesulitan dalam mengurutkan dan mengorganisasikan informasi secara detail, umumnya juga akan sulit mengingat sebuah fakta, konsep ataupun formula untuk menyelesaikan kalkulasi matematis. Jika problem ini yang menjadi penyebabnya, anak cenderung mengalami hambatan pada aspek kemampuan lainnya, seperti membaca kode-kode dan mengeja, serta apapun yang membutuhkan kemampuan mengingat kembali hal-hal detail.

3. Fobia matematika

Anak yang pernah mengalami trauma dengan pelajaran matematika bisa kehilangan rasa percaya dirinya. Jika hal ini tidak diatasi segera, ia akan mengalami kesulitan dengan semua hal yang mengandung unsur hitungan.

PENANGANAN 

1.    Cobalah memvisualisasikan konsep matematis yang sulit dimengerti, dengan menggunakan gambar ataupun cara lain untuk menjembatani langkah-langkah atau urutan dari  proses keseluruhannya. Misal : menggunakan alat bantu benda : 2 apel ditambahkan 2 apel, jadinya 4 apel.

2.     Tuangkan konsep matematis atupun angka-angka secara tertulis  di atas kertas agar anak mudah melihatnya dan tidak sekedar abstrak. Bila perlu, tuliskan urutan angka-angka itu untuk membantu anak memahami konsep setiap angka sesuai dengan urutannya.

3.     Terapkan konsep matematis dalam aktifitas sederhana sehari-hari. Umpama, beberapa sepatu yang harus dipakainya jika berpergian, berapa potong pakaian seragam sekolahnya dalam seminggu, berapa jumlah kursi makan yang diperlukan jika disesuaikan dengan anggota keluarga yang ada dan sebagainya.

4. Sesering mungkin mendorong anak melatih ingatan secara kreatif, entah dengan cara menyanyikan angka-angka ataupun cara lain yang mempermudah menampilkan ingatannya tentang angka.

5.     Harus ada kerjasama terpadu antara guru dan orangtua untuk menentukan strategi belajar di kelas, memonitor kesulitan dan perkembangan anak, serta melakukan tindakan-tindakan yang perlu  untuk memfasilitasi kemajuan anak. Misal, guru memberi saran tertentu pada orangtua dalam menentukan tugas di rumah, buku-buku bacaan, serta latihan yang disarankan.

6.     Buat pelajaran matematika menjadi sesuatu yang menarik. Lakukan pendekatan multisensoris (dapat berupa gambar, audiotape, dan sebagainya) mengajari anak menggunakan logikanya, bukan menghafal mati, berikan materi bertahap satu persatu dan berikan materi dalam unit-unit kecil.

Disleksia, Gangguan dalam Membaca

DISLEKSIA merupakan gabungan dari dua kata bahasa Yunani, yakni “dys” yang berarti kesulitan dan “lexis” yang berarti bahasa. Anak disleksia bukanlah anak bodoh. Namun ia mengalami kelainan neurobiologis yang ditandai dengan kesulitan dalam berbahasa : sulit mengeja, mengenali simbol huruf, sulit mengenal kata, karena ia sulit mengode simbol di dalam otak untuk diterjemahkan.

PENYEBAB

Proses membaca diatur oleh bagian khusus dari sistem saraf manusia, yaitu di bagian temporal-parietal-oksipital (otak bagian samping dan belakang). Terdapat perbedaan anatomi antara otak anak disleksia dengan anak normal. Pada pemeriksaan functional magnetic resonance imaging yang dilakukan saat anak membaca, ternyata aktifitas otak anak yang mengalami disleksia  jauh berbeda daripada anak umumnya. Terutama terjadi saat pemrosesan input huruf/kata yang dibaca lalu “diterjemahkan” menjadi suatu makna. Inilah yang menjadi penyebab munculnya disleksia.

DETEKSI

Untuk mendeteksi apakah anak disleksia atau tidak, bisa dengan melihat tanda-tandanya. Misal, seperti yang sudah disinggung sebelumnya, anak kesulitan mengenali dan mengeja huruf  serta kerap tertukar dengan huruf yang mirip dengan huruf “d” tertukar dengan “ b”, huruf “m” tertukar dengan huruf “ w”, huruf “p” dengan huruf “q”, dan lainnya.

Ia sangat sulit memahami kalimat yang dibaca maupun yang didengar, sulit menulis sambung, sulit membuat tulisan yang bagus dan rapi, sulit mengingat nama, sulit membedakan huruf vokal dan konsonan, sering tertukar kata saat membaca seperti “masa” dibaca “sama” dan banyak lagi.

PENANGANAN

Salah satu metode yang diterapkan dalam mengatasi disleksia adalah metode multi-sensory. Lewat metode yang sudah terintegrasi ini, anak akan diajarkan mengeja. Tekniknya bisa dengan mendengar dan mengulang ejaan,  memanfaatkan kekuatan memori  visual (penglihatan) serta taktil (sentuhan). Merekapun diminta menuliskan huruf dengan berbagai cara, di buku, di lantai, di udara menggunakan pensil spidol bahkan membentuk huruf dengan lilin. Tujuan utamanya adalah anak bisa mengasosiasikan antara pendengaran, penglihatan dan sentuhan sehingga otak lebih mudah mengingat kembali huruf-huruf.

Selain itu kita perlu membangun rasa percaya diri anak karena biasanya anak disleksia sering mengalami gangguan kepercayaan diri, akibat dari lingkungan yang kerap mengolok, mengejek dan mencap negatif, memarahi dan lainnya. Jika kepercayaan diri rendah, anak akan semakin sulit keluar dari masalahnya. Biasanya anak disleksia memiliki kelebihan lain, carilah kelebihan itu dan kembangkan sehingga  rasa percaya diri anak bisa tumbuh lebih kuat.

Disgrafia, Gangguan dalam Menulis

DISGRAFRIA berasal dari bahasa Yunani “dys” berarti kesulitan dan “grapia” yang berarti huruf. Disgrafia berarti kesulitan khusus yang membuat anak tidak bisa menuliskan atau mengekspresikan pikirannya ke dalam bentuk tulisan lantaran mereka tidak bisa menyusun huruf/kata dengan baik dan mengordinasikan motorik halusnya (tangan) untuk menulis.

Kesulitan yang umumnya bisa terlihat saat anak mulai belajar menulis ini, tidak bergantung pada kemampuan lainnya. Seseorang bisa sangat fasih dalam berbicara dan keterampilan motorik lainnya tapi mempunyai kesulitan menulis.

GEJALA

Ada beberapa gejala disgrafia. Anak tidak mampu menulis padahal anak seusianya sudah mahir, tulisan anak sangat jelek dan sulit dibaca, sering salah dalam mengeja seperti suaranya menjadi terbalik, dilebihkan, atau menghilangkan bunyi. Suka salah dalam memahami pertanyaan, kerap salah dalam mengurutkan angka atau malah terbolak-balik, kerap tidak konsisten dalam menulis seperti mencampuradukkan antara huruf besar dan kecil, ukuran dan bentuk huruf yang ditulis tidak teratur, posisi menulis tidak konsisten, agak kesulitan memegang pensil karena pengaruh motorik halus yang kurang, dan lainnya.

PENYEBAB

Faktor neurologis, yakni adanya gangguan pada otak bagian kiri depan yang berhubungan dengan kemampuan membaca dan menulis. Agak mengalami kesulitan dalam harmonisasi secara otomatis antara kemampuan mengingat dan menguasai gerakan otot menulis huruf dan angka.

PENANGANAN

1.  Pahami kondisi anak

Terimalah keadaannya dan tidak membandingkannya dengan anak lain. Jangan pernah beranggapan anak disgrafia adalah anak bodoh, pemalas, dan label negatif lainnya. Ingat, kesulitan ini tidak berkaitan dengan tingkat inteligensi yang rendah, kemalasan, asal-asalan menulis, dan tidak mau belajar.

Kesabaran dan pengertian orangtua serta guru sangat diperlukan supaya anak keluar dari masalahnya. Ketidaksabaran apalagi disertai cemoohan malah akan membuat anak semakin berkutat dengan masalahnya bahkan membuatnya semakin rendah diri.

2. Gunakan alat bantu

Alat bantu seperti komputer atau laptop, biasanya dapat membuat anak lebih mudah menuangkan ide atau apapun  yang ingin ia tulis. Dengan alat bantu ini kita bisa menjelaskan lebih detail kesalahan-kesalahan yang anak lakukan. Umpama, dengan tombol korektor untuk memperbaikinya sehingga anak lebih mudah memahami kesalahannya.

3.  Minta terus menulis

Terus menulis merupakan terapi untuk mengatasi masalah ini. Lakukan secara bertahap, mulai tullisan pendek hingga panjang; mulai didampingi secara penuh hingga secara perlahan dilepas. Jangan lupa, supaya anak tertarik menulis, minta ia menulis hal-hal yang disukainya seperti menulis surat kepada teman, menulis pengalaman pergi tamasya, menulis cerita tentang teman yang menyenangkan, dan lainnya. Tak hanya menulis, kitapun bisa meminta anak untuk menggambar apa pun yang ia suka yang dapat membantu anak keluar dari masalah disgrafia. (Berbagai Sumber)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Jadwal

Tidak ada jadwal

Polls

Perkembangan anak-anak saya....