PROGRAM "KELAS" KANCIL

recyclebin_48.png Selain melayani konsultasi psikologi, Kancil juga membuka beberapa "kelas" yang dapat diikuti oleh para orang tua, anak maupun anggota keluarga yang lain. Selengkapnya...

 

Konsultasi Psikolog

internet_48.pngPara psikolog yang berpengalaman siap membantu keluarga dengan konsultasi psikologi untuk anak, remaja, dan keluarga.
selengkapnya...

Terapi Anak & Remaja

mydocuments_48.pngBeragam jenis terapi dari KANCIL untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, dirancang sesuai kebutuhan. 
selengkapnya ...

Pengayaan Anak & Remaja

mypc_48.pngKANCIL menyediakan layanan pengayaan (enrichment) anak melalui berbagai kegiatan yang dirancang secara profesional.
selengkapnya ...
 

Pendaftaran Acara

Kelas Yoga untuk Anak

Ada Pertanyaan?

Jika Anda memiliki pertanyaan, Anda dapat mengirimkan email kepada kami

Kontak KANCIL

Kenalkan Ibadah sejak Dini

mengaji-alquran.jpg

S
ebaiknya, pengenalan ibadah menurut Yelia Dini Puspita, M.Psi harus dilakukan sejak dini, antara lain:

1. Dalam kandungan

Sejak bayi dalam kandungan pun, orangtua bisa melakukan pengenalan ibadah. Misal, bagi umat  muslim, melalui kegiatan mengaji yang dilakukan orangtua, memperdengarkan lantunan ayat suci Al Quran, serta lagu-lagu Islami. Begitu pula dengan agama lain, bisa membacakan bait-bait yang tertulis dalam Alkitab.

2. Balita

Ketika mengajarkan ibadah pada usia ini, orangtua hendaknya menciptakan suasana menyenangkan. Hindari "pemaksaan" ibadah kepada anak. Apalagi menjadikan kegiatan ibadah sebagai hukuman.



Ambil contoh, saat bermain peran, orangtua bisa menyelipkan kegiatan beribadah. Atau menyeritakan (story telling) buku cerita bermuatan ibadah. Selain itu, ajaklah anak berkunjung ke tempat ibadah sembari mengenalkan ibadah, mengajak anak ibadah di Masjid atau ke Sekolah Minggu, misalnya.  

3. Anak-anak

Pada usia ini, anak belajar lebih cepat melalui proses pembiasaan dan contoh yang diberikan orangtua sehari-hari, seperti melakukan ibadah salat di depan anak. Atau setiap kali Azan, orangtua menunjukkan kegembiraan bahwa waktu shalat sudah tiba. Lalu, mengajaknya shalat berjamaaah. Begitu pula dalam mengenalkan doa-doa, orangtua membiasakan anak mengucapkan doa sesuai kegiatan yang dilakukannya, sehingga lambat laun dia akan terbiasa.  

Tanamkan Makna Ibadah

Seperti pada bulan Ramadhan ini, anak tidak hanya diperkenalkan pelbagai kegiatan, seperti berpuasa dan Salat Tarawih, melainkan makna dibalik kegiatan tersebut. Membayar Zakat pada bulan Ramadhan, ujar Yelia, mengajarkan anak nilai berbagi, empati, mengendalikan keinginan, menahan emosi terhadap orang lain. Semua itu mengasah kecerdasan moral, spiritual, dan emosi anak.

"Nak, melalui zakat, kita dapat menolong orang-orang yang tidak mampu. Sehingga, mereka dapat merayakan Idul Fitri. Ya, dan kamu pun mendapat pahala dari Allah," imbuh Yelia.    

Hal lain lagi, sisipnya, selain anak diajarkan rutinitas ibadah, ajari juga maknanya. Umpama, adab-adab dalam menjalankan ibadah. Hendaknya, anak melakukan ibadah secara khusyuk.


Nah, penyampaiannya bisa beragam, utamanya: memberikan contoh dan pembiasaan, selain itu story telling, menonton film, membaca buku, dan sebagainya. 

"Hindari memusatkan perhatian pada reward, menjanjikan hadiah tertentu bila anak melakukan ibadah puasa. Sebaiknya, orangtua membangun kesadaran beribadah dengan memberikan penjelasan dan manfaatnya bagi anak," imbuh Psikolog kelahiran 7 Juli ini.


"Menaklukan" Keusilan Anak Saat Ibadah

Memang, ungkap Yelia, anak-anak masih dalam tahap eksplorasi dan bermain. Jadi, wajar saja kalau mereka sangat aktif bergerak.

"Karena itu, penanaman mengenai adab dalam beribadah merupakan proses yang memerlukan pengulangan, serta penguatan," saran Psikolog yang berpraktik di KANCIL, Duren Tiga.

Selain itu, Yelia pun memberi tips, yakni:

- Biasakan beribadah di Rumah

Contohnya kaum Muslim. Bila anak terbiasa melakukan ibadah shalat di rumah, biasakan dia shalat berjamaah. Biasakan shalat bagi anak menjadi rutinitas, tidak hanya pada bulan Ramadhan saja. Sehingga, dia memahami makna shalat dan kelak tidak menganggu orang lain saat shalat. Begitu juga bagi agama lain, biasakan mengajak si kecil berdoa ketika hendak melakukan kegiatan, seperti mau makan atau tidur.

- Berada di Dekat Orangtua

Sebaiknya, saat anak beribadah, shalat Tarawih misalnya, tempatkan dia dekat orangtuanya dan tidak berkumpul dengan anak-anak lainnya. Tentu saja, sebelum berangkat menuju Masjid, berikan pemahaman kepada anak bahwa melakukan shalat Tarawih agar mendapat Ridho dan pahala dari Allah, bukan untuk bermain ataupun bertemu teman-teman. Atau bagi umat Kristiani, ajaklah anak-anak Sekolah Minggu. Bagi yang terpaksa membawa anak-anak ke kebaktian, harap menempati ruangan khusus yang disediakan agar tidak mengganggu jemaat yang lain.

- Beri Penjelasan Kepada Anak-anak

Orangtua dapat mengumpulkan anak-anak yang biasa melakukan ibadah, shalat Tarawih bersama-sama dan memberikan penjelasan ataupun diskusi mengenai pentingnya shalat Tarawih, misalnya. Sehingga, mereka dapat mengembangkan sikap khusyuk dan tidak menganggu teman. Kegiatan ini bisa dilakukan dengan cara mendongeng, menonton film, dan sebagainya.

(Mom& Kiddie)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Polls

Perkembangan anak-anak saya....