PROGRAM "KELAS" KANCIL

recyclebin_48.png Selain melayani konsultasi psikologi, Kancil juga membuka beberapa "kelas" yang dapat diikuti oleh para orang tua, anak maupun anggota keluarga yang lain. Selengkapnya...

 

Konsultasi Psikolog

internet_48.pngPara psikolog yang berpengalaman siap membantu keluarga dengan konsultasi psikologi untuk anak, remaja, dan keluarga.
selengkapnya...

Terapi Anak & Remaja

mydocuments_48.pngBeragam jenis terapi dari KANCIL untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, dirancang sesuai kebutuhan. 
selengkapnya ...

Pengayaan Anak & Remaja

mypc_48.pngKANCIL menyediakan layanan pengayaan (enrichment) anak melalui berbagai kegiatan yang dirancang secara profesional.
selengkapnya ...
 
Permainan Asah Otak Untuk Anak

Pada prinsipnya, semakin terampil mengatasi persoalan hidup, anak akan semakin cerdas. Nah, kegiatan bermain baik untuk melatih kemampuan itu.

The child shall have full opportunity for play and recreation which should be directed to the same purposes as education; society and the public authorities shall endeavour to promote the enjoyment of this right. (Hak anak menurut deklarasi PBB pasal 7 ayat 3)

Begitu pentingnya bermain bagi anak, bahkan lembaga dunia PBB pun perlu menuangkannya menjadi aturan tertulis. Ditegaskan pula di pasal tersebut, bermain sama pentingnya dengan pendidikan. Mengapa? Sebab, anak–anak justru belajar banyak hal lewat permainan.

Setiap anak pada dasarnya suka bermain, karena bermain lebih menggairahkan. Mereka suka bergerak, bereksplorasi, belajar dengan menggunakan seluruh sense dan anggota tubuhnya. Bandingkan dengan cara belajar menonton yang mengharuskan anak duduk manis di meja dalam waktu lama, hal ini tentulah sangat membosankan.

BERMAIN DAN OTAK

Jangan dikira anak bermain melulu tidak menghasilkan apapun. Justru dengan bermain anak dapat mengasah tiga kemampuannya sekaligus, yakni kognitif, motorik, dan sosial. Sedangkan anak yang kurang bermain akan menjadi anak yang pasif, kurang inisiatif, kaku, kurang spontan, keterampilan sosialnya kurang,  serta kinerja otaknya menurun.

Pada hakikatnya, bermain adalah kegiatan yang menimbulkan perasaan senang dan kegembiraan meluap (excited). Dalam kondisi senang, anak mengalami “exciting experiences” atau pengalaman yang berkesan. Hal ini akan membangkitkan sistem saraf simpatis (saraf bangun, yaitu sistem saraf di otak yang bekerja di waktu manusia dalam keadaan sadar sepenuhnya). Rangsang pada sistem saraf simpatis akan meningkatkan sekresi ephinephrine (adrenalin) kedalam darah dan mengalirkan adrenalin dalam darah ini keseluruh tubuh (Mc.Gaugh, 1990, dalam Kalat,1993).

Nah, hormon yang dihasilkannya itulah yang akan membantu anak untuk dapat memproses informasi yang diterima dengan lebih baik. Dengan kata lain, anak akan mendapat pengalaman penuh makna (meaningful) dari suatu kegiatan bermain. Setelah informasi tersebut bisa disimpan dalam memorinya dengan lebih baik.

Bahkan seorang ahli biologi molekular, John Medina, yang meneliti cara kerja otak manusia, mengatakan bahwa dengan bergerak dan aktif (saat bermain) bisa meningkatkan kinerja otak anak. Bila tubuh diam, otakpun akan diam. Dalam keadaan aktif dan excited, darah akan memompa oksigen dan glukosa ke otak. Ini yang bisa menyebabkan otak kembali memiliki performa.

Manfaat bermain juga disentuh dalam teori evolusi. Teori ini memercayai bahwa tubuh manusia (termasuk otak) didisain untuk bertahan hidup. Salah satunya adalah mampu mengatasi persoalan–persoalan hidup. Nah, dalam bermain biasanya ada persoalan yang harus dipecahkan atau diatasi. Maka itu, kegiatan bermain merupakan sarana yang tepat bagi anak untuk melatih kemampuan memecahkan berbagai persoalan. Semakin anak terampil mengatasi persoalan hidupnya, anakpun semakin cerdas.

TETAP ADA ATURAN

 
Menurut psikolog sekaligus play therapist, Dra. Mayke S Tedjasaputra, M.Si., bermain akan bermanfaat bila orangtua bisa memilihkan kegiatan/alat permainan yang sesuai usia anak. Permainan yang terlalu “mudah” akan membuat anak cepat bosan, sedang permainan yang terlalu “sulit” akan membuatnya frustasi.
 
Selain itu, pastikan saat menemani anak bermain, orangtua tidak sekedar menjadi penonton, namun ikut aktif menstimulasi anak. Berikan alat permainan dan kegiatan bermain yang bervariasi mencakup indoor vs outdoor, individual vs group play, dan unstructured vs semi structured play. 

Waspadai juga permainan yang minim gerak tubuh dan menimbulkan efek adiksi (seperti games digital). Permainan ini bukannya tidak boleh namun sebaiknya dibatasi, karena pada games semacam itu, anak memperoleh kesenangan/ketegangan/excited yang terlalu berlebih justru menghambat kerja otak.

Panduan Bermain……

·           Pada intinya, semua jenis permainan bisa mengasah kerja otak. Dengan catatan, kegiatan yang dilakukan bisa memberikan sesuatu informasi/keterampilan baru bagi anak, memiliki makna, dan dapat membantu anak mengatasi persoalan baru.

·          Bermainlah dengan bebas dan bergembiralah. Bermain dengan keterpaksaan atu penuh beban tak akan memberikan manfaat berarti bagi anak.

·          Bermainlah secara alamiah, sesuai dengan tahapan usia, kemampuan, keadaan lingkungan.

·          Perhatikan kondisi fisik, jangan bermain sampai terlalu lelah, selingi dengan istirahat yang cukup.

·          Bermainlah dengan orang lain atau bergabung dengan teman sebaya, karena manfaatnya jauh lebih besar, meskipun adakalanya anak memiliki keinginan untuk bermain sendiri.

·          Hindari memainkan jenis permainan yang minim gerak tubuh atau mini kontak dengan alam atau lingkungan, minim kontak dengan teman, serta adiktif.

 

Tahapan Bermain……

1.     Unoccupied Play (0-2 tahun)

Pada tahap ini sebenarnya bayi/anak tidak benar–benar terlibat dalam kegiatan bermain, melainkan hanya mengamati kejadian sekitar yang menarik perhatiannya. Bila tak ada yang menarik biasanya bayi/anak menyibukkan diri, seperti memainkan anggota tubuhnya, pandangan matanya mengikuti oranglain, berkeliling atau naik turun kursi, dan sebagainya.

2.     Solitary Play (2–2,6 tahun)

Anak sibuk main sendiri dan tampak tidak memperhatikan kehadiran oranglain disekitarnya. Perilakunya masih dalam masa egosentris, dengan ciri–ciri : tak ada usaha berinteraksi dengan anak lain, sikap memusatkan perhatian pada diri dan kegiatan sendiri. Anak akan merasakan kehadiran anak lain apabila anak lain mengambil mainannya.

3.     Onlooker Play (2–3 tahun)

Kegiatan bermain dengan mengamati anak lain bermain. Mereka tampak memiliki minat besar terhadap kegiatan bermain yang diamatinya. Ini dapat juga terlihat pada anak yang belum kenal dengan anak lain di suatu lingkungan baru, sehingga malu atau ragu untuk bergabung. Bisa juga ia sesekali mengajukan pertanyaan saat mengamati atau memperhatikan perilaku dan percakapan anak lain.

4.     Paralel Play (3–4 tahun)

Tampak pada saat 2 anak atau lebih bermain dengan jenis alat permainan yang sama dan melakukan gerakan atau kegiatan yang sama secara bersamaan, namun sebenarnya tak ada interaksi diantara mereka. Mereka melakukan secara sendiri-sendiri. Bentuk kegiatan bermain ini contohnya: pada saat anak bermain mobil–mobilan, lego, atau menyusun balok–balok juga bermain pasir pantai, bersepeda, dan sepatu roda, dilakukannya tanpa interaksi. Ini karena mereka masih amat egosentris, belum mampu memahami atau berbagi rasa/kegiatan dengan anak lain.

5.     Associative Play (3–5 tahun)

Ditandai dengan adanya interaksi antar anak yang bermain, seperti saling tukar alat permainan, alat tulis, pensil warna, namun sebenarnya tak ada kerja sama. Mereka saling memberikan komentar terhadap gambarnya masing-masing, berbagi pensil warna tetapi mereka bekerja sendiri-sendiri.

6.     Cooperative Play (4 tahun ke atas)

Bermain kooperatif atau bermain bersama ditandai dengan adanya kerja sama atau pembagian tugas/peran antara anak–anak yang terlibat dalam permainan untuk mencapai satu tujuan tertentu. Umpama, main dokter–dokteran, bermain drama, atau menyusun bangunan tertentu dari balok–balok bersama–sama. Kegiatan bermain ini sebenarnya sudah muncul pada anak usia 5 tahun, namun perkembangannya bergantung pada latar belakang orangtua sejauh mana mereka memberikan kesempatan dan dorongan agar anak mau bergaul dengan teman sebaya.

Manfaat Bermain……

Bila dirinci, begitu banyak manfaat bermain. Ini diantaranya :

·        Aspek Fisik

Bermain dapat digunakan sebagai terapi melepaskan diri dari ketegangan serta mengeluarkan energi anak ke dalam aktivitas yang menyenangkan. Selain juga memberi kesempatan otot–otot tubuh untuk bergerak bebas sehingga anak dapat tumbuh sehat dan kuat.

·        Perkembangan motorik kasar dan halus

Anak tidak terlahir untuk langsung cakap menggunakan berbagai anggota tubuh dan seluruh indranya. Semua itu perlu dipelajari. Nah, lewat bermain anak dapat belajar semua itu, termasuk mengembangkan keterampilan motorik halus dan motorik kasarnya.

Bayi 3 bulan belajar meraih lalu menggenggam mainannya. Ini berarti ia belajar mengoordinasikan atau menyelaraskan gerakan tangan dengan matanya. Usia 1 tahun, anak mulai senang memainkan pensil untuk mencoret–coret, usia 2 tahun dapat membuat benang kusut dan berhasil membuat garis lengkung, lalu usia 3 tahun dapat menggambar bentuk–bentuk tertentu seperti gambar rumah atau orang.

Masuk usia sekolah, dengan bermain, si kecil bisa menghasilkan karya–karya bagus seperti origami, membuat pigura, membangun istana pasir. Semua ini dihasilkan melalui gerakan tubuh dan tangan.

·        Perkembangan aspek sosial

Bermain merupakan sarana bagi anak untuk bersosialisasi, belajar bekerja sama mengerti peraturan, saling berbagi, belajar menolong diri sendiri dan orang lain serta menghargai waktu.

Contoh paling sederhana dengan bermain petak umpet atau cilukba membantu bayi mempunyai pengalaman berpisah sesaat dari orangtua dan belajar untuk percaya pada lingkungannya.

Ketika anak bermain dengan teman sebaya, ia juga belajar keterampilan sosial lainnya, seperti berbagi hak milik, bergiliran, menunggu, bekerja sama, toleransi, mempertahankan hubungan yang sudah terbina, mencari pemecahan masalah bersama–sama, belajar berkomunikasi, mengemukakan apa yang ia pikirkan dan rasakan, memahami apa yang diucapkan oranglain, bertukar informasi, mempelajari budaya–budaya setempat, dan belajar peran jenis kelamin.

Selain itu, dari bermain peran, anak belajar memahami peran sebagai ayah, ibu, dokter, penjual, pembeli serta belajar tingkah laku apa yang diharapkan dari anak perempuan dan laki–laki, dan sebagainya.

·        Perkembangan emosi dan kepribadian

Dengan bermain, anak dapat melepaskan ketegangan atas larangan–larangan yang dihadapinya dalam kehidupan sehari–hari atau menyalurkan keinginan–keinginan terpendamnya. Misal, ketika anak bermain boneka, ia bisa berpura–pura sebagai murid terpandai di kelasnya atau berperan sebagai guru yang memarahi anak yang nakal di sekolah.

Ketika anak bermain bersama kelompoknya, ia dapat memperoleh penilaian dirinya dari teman, tentang kebaikan dirinya, misal. Penilaian positif yang didapat akan menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. Itulah salah satu guna bermain, yakni merupakan dasar pertumbuhan mental serta nilai–nilai moral.

·        Perkembangan Kognisi

Sejak usia prasekolah, anak diharapkan menguasai berbagai konsep (seperti warna, ukuran, bentuk, arah, besaran) sebagai landasan untuk menguasai tugas-tugas sekolah kelak. Pengetahuan akan konsep ini lebih mudah diperoleh melalui kegiatan bermain. Ingat, rentang perhatian anak, terutama balita, masih rendah. Merekapun masih sulit untuk diam dan serius.

Namun lewat bermain, anak–anak dapat memperoleh rasa senang sekaligus mempelajari sesuatu sehingga tanpa disadari ia banyak memperoleh pengetahuan. Daya cipta, imajinasi, dan kreativitas juga bisa diperoleh melalui pengalaman dalam bermain.

Bermain bersama teman sebaya juga dapat mendorong anak untuk menambah kosakata, miningkatkan pemahaman akan intruksi, mengemukakan keinginan, dan lebih terampil serta luwes.

·        Ketajaman pengindraan

Kelima pengindraan anak perlu diasah agar lebih peka dan tanggap terhadap hal–hal yang berlangsung disekitarnya. Sejak bayi anak sudah dilatih pengindraannya dengan bermain kerincingan, boneka bersuara, musik boks, atau mengenal suara–suara di lingkungan seperti suara burung, motor yang menderu, dan sebagainya.

Di usia selanjutnya kemampuan indra ini bisa terus dikembangkan dengan berbagai cara yang fun. Misal, agar kemampuan perhatian dan mengingat anak meningkat, maka indra penglihatan dan pendengarannya perlu distimulasi dengan cara banyak membaca, bercerita, bermain musik, dan sebagainya. 

·        Mengembangkan keterampilan

Bermain dapat menjadi media mengembangkan berbagai keterampilan gerak tubuh yang baik, lentur, luwes, tidak kaku atau canggung. Anak pun tidak merasa waswas atau takut melakukan berbagai gerak tubuh, seperti bergelantungan, menangkap bola, memasukkan bola ke gawang, melompat, dan sebagainya. Anak merasa enjoy dan senang. Ia juga cekatan, kuat, sehat, terampil, serta mampu melakukan gerakan–gerakan yang komplek tersebut. Kelak dirinya pun lebih siap menekuni bidang olahraga tertentu. (Nakita)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >